Kisah waliyullah ^_^

9:52:00 AM

                                                -gambar sekadar hiasan,credit to google-


Selalu kita mengimpikan hidup seperti sufi.Acap kali kita bermimpi menjdi seperti wali sedangkan diri kita tak selayak hamba-hamba suci pilihan Allah ini.Soroti kisah-kisah sufi ini.Sufi agung yang memberikan sumbangan besar terhadap dunia pemahaman dan pengamalan hidup dan kehidupan secara mendalam antara makhluk dengan sang pencipta, makhluk dan sesama ini mempunyai nama lengkap al-Imam al-A'rif al-Sufy al-Wasil Abu al-Faidl Tsauban bin Ibrahim , dan terkenal dengan Dzunnun al-Misry. Kendati demikian besar nama yang disandangnya tetapi tidak ada catatan sejarah tentang bila kelahirannya.
Perjalanan menuju Mesir  


Waliyullah yang bangga dan dibanggakan oleh Mesir ini berasal dari Nubay (satu suku di selatan Mesir) dan kemudian menetap di bandar Akhmim (sebuah bandar di daerah Suhaj). Kota Akhmin ini rupanya bukan tempat tinggal terakhirnya. Sebagaimana lazimnya para sufi, ia selalu menjelajah bumi mensyiarkan agama Allah mencari jati diri, menggapai cinta dan ma'rifatulah yang hakiki. 

Suatu ketika dalam perjalanan yang dilalui kekasih Allah ini, ia mendengar suara gendang berima rancak diiringi nyanyi-nyanyian dan siulan khas acara pesta. Kerana ingin tahu apa yang terjadi dia akan bertanya pada orang di sampingnya: 


"ada apa ini?". Orang tersebut menjawab: Itu sebuah pesta perkawinan. Mereka merayakannya dengan nyanyi-nyanyian dan tari-tarian yang diiringi muzik ". 

Tidak jauh dari situ terdengar suara memilu seperti ratapan dan jeritan orang yang sedang dirundung duka." Fenomena apa lagi ini? "Begitu fikir sang wali. Iapun bertanya pada orang tadi. dengan santai orang tersebut menjawab: "Oh ya, itu jeritan orang yang salah satu anggota keluarganya meninggal. Mereka biasa meratapinya dengan jeritan yang memekakkan telinga ". 

Di sana ada suka yang dimeriahkan dengan warna yang tiada tara. Di sini ada duka yang diratapi habis tak bersisa. Dengan suara lirih, ia mengadu:" Ya Allah, aku tidak mampu mengatasi ini. Aku tidak sanggup berlama-lama tinggal di sini. Mereka diberi anugerah tidak pandai bersyukur. Di sisi lain mereka diberi cubaan tapi tidak bersabar ". Dan dengan hati yang pedih ia tinggalkan kota itu menuju ke Mesir (sekarang Kaherah). 


Perjalanan ke dunia tasawuf  


Banyak cara kalau Allah berkehendak menjadikan hambanya menjadi kekasihnya. Kadang berliku penuh onak dan duri. Kadang lurus bak jalan bebas hambatan. Kadang melewati genangan lumpur dan sisa dosa. Tak dikecualikan apa yang terjadi pada Dzunnun al-Misri. Bukan wali yang mengajaknya ke dunia tasawuf. Bukan pula seorang alim yang menyuruhnya mencebur ke alam hakikat. Tapi seekor burung lemah tiada daya. 


Pengarang kitab al-Risalah al-Qusyairiyyah bercerita bahawa Salim al-Maghriby menghadap Dzunnun dan bertanya "Wahai Abu al-Faidl!" begitu ia memanggil demi menghormatinya "Apa yang menyebabkan Tuan bertaubat dan menyerahkan diri sepenuhnya pada Allah SWT?". "Sesuatu yang menakjubkan, dan aku kira kamu tidak akan mampu". Begitu jawab al-Misri seperti sedang berteka-teki. Al-Maghriby semakin penasaran "Demi Zat yang engkau sembah, ceritakan padaku" lalu Dzunnun berkata: "Suatu ketika aku hendak keluar dari Mesir menuju salah satu desa lalu aku tertidur di padang pasir. Ketika aku membuka mata, aku melihat ada seekor anak burung yang buta jatuh dari sangkarnya. Cuba bayangkan, apa yang boleh dilakukan burung itu. Dia terpisah dari kumpulan dan saudaranya. Dia buta dan tidak mungkin terbang apalagi mencari sebutir biji makanan.  Tiba-tiba bumi terbelah. Perlahan-lahan dari dalam muncul dua mangkuk, yang satu dari emas satunya lagi dari perak. Satu mangkuk mengandungi biji-bijian simsim, dan yang satunya lagi berisi air. Dari situ dia boleh makan dan minum dengan puas. Dari mana datangnya kalau bukan dari zat yang BESAR.Tiba-tiba ada kekuatan besar yang mendorongku untuk bertekad: "Cukup ... aku sekarang bertaubat dan jumlah menyerahkan diri pada Allah SWT. Akupun terus bersimpuh di depan pintu taubat-Nya, sampai Dia Yang Maha Asih berkenan menerimaku ".

Perjalanan ruhaniah  


Ketika si kaya tak juga kenyang dengan bertumpuknya harta. Ketika ahli politik tak juga puas hati dengan indahnya kerusi. Maka kaum sufi pun selalu haus dengan kedekatan lebih dekat dengan Sang Kekasih sejati. Selalu ada kemudahan yang berbeza. Selalu ada kebahagiaan yang tak sama.  
Maka demikianlah, Dzunnun al-Misri tidak puas hati dengan hikmah yang ia dapatkan dari burung kecil tak berdaya itu. Baginya semuanya adalah media hikmah. Batu, tumbuhan, kisah para wali, hardikan pendosa, jeritan kemiskinan, rintihan orang hina semua adalah hikmah.  

Suatu malam, tatkala Dzunnun bersiap-siap menuju tempat untuk ber-munajat ia terserempak dengan seorang laki-laki yang nampaknya baru saja mengharungi samudera kegundahan menuju ke tepi pantai kesesatan. Dalam senyap laki-laki itu berdoa "Ya Allah Engkau mengetahui bahawa aku tahu ber-istighfar dari dosa tapi tetap melakukannya adalah dicerca. Sungguh aku telah meninggalkan istighfar, sementara aku tahu kelapangan rahmatmu. Tuhanku ... Engkaulah yang memberi keistimewaan pada hamba-hamba pilihan- mu dengan kesucian ikhlas. Engkaulah Zat yang menjaga dan menyelamatkan hati para auliya 'dari datangnya kebimbangan. Engkaulah yang mententeramkan para wali, Engkau berikan kepada mereka kecukupan dengan adanya seseorang yang bertawakkal. Engkau jaga mereka dalam pembaringan mereka, Engkau mengetahui segala rahsia hati mereka. Rahasiaku telah terkuak di hadapan-Mu. Aku di hadapan-Mu adalah orang lara tiada asa ".  

Dengan khusyu 'Dzunnun menyimak kata demi kata rintihan orang tersebut. Ketika dia kembali memasang telinga untuk mengambil hikmah di balik ratapan lelaki itu, suara itu perlahan menghilang sampai akhirnya hilang sama sekali di telan gulitanya sang malam namun menyisakan goresan yang mendalam di hati sang wali ini. 

Di saat yang lain ia bercerita pernah mendengar seorang ahli hikmah di lereng gunung Muqottom. "Aku harus menemuinya" begitu ia bertekad kemudian. Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan iapun bisa menemukan kediaman lelaki misteri. Selama 40 hari mereka bersama, merenungi hidup dan kehidupan, memaknai ibadah yang berkualiti dan saling tukar pengetahuan. Suatu ketika Dzunnun bertanya: "Apakah keselamatan itu?". Orang tersebut menjawab "Keselamatan ada dalam ketakwaan dan al-Taubat (menilai diri)". "Selain itu?". pinta Dzunnun seperti kurang puas. "Menyingkirlah dari makhluk dan jangan merasa tenteram bersama mereka!". "Selain itu?" pinta Dzunnun lagi. "Ketahuilah Allah mempunyai hamba-hamba yang mencintai-Nya. Maka Allah memberikan segelas minuman kecintaan. Mereka itu adalah orang-orang yang merasa dahaga ketika minum, dan merasa segar ketika sedang haus". Lalu orang tersebut meninggalkan Dzunnun al-Misri dalam kedahagaan yang selalu mencari kesegaran cinta Ilahi. 


Kealiman Dzunnun al-Misri

Betapa indahnya ketika ilmu berhiaskan tasawuf. Betapa mahalnya ketika tasawuf berlandaskan ilmu. Dan betapa agungnya Dzunnun al-Misri yang dalam dirinya tersusun  cantik kedalaman ilmu dan keindahan tasawuf. Tiada siapa yang mampu membedal  hujjahnya. Hati mana yang mampu berpaling dari untaian mutiara hikmahnya. Dialah orang Mesir pertama yang berbicara tentang urutan-urutan al-Ahwal dan al-Maqomaat para wali Allah. Maslamah bin Qasim mengatakan "Dzunnun adalah seorang yang alim, zuhud wara ', mampu memberikan fatwa dalam pelbagai disiplin ilmu. Beliau termasuk perawi Hadis". Hal senada diungkapkan Al-Hafiz Abu Nu'aim dalam Hilyah-nya dan al-Dzahabi dalam Tarikh-nya bahwasannya Dzunnun telah meriwayatkan hadith dari Imam Malik, Imam Laits, Ibn Luha'iah, Fudail ibn Iyadl, Ibn Uyainah, Muslim al-Khowwas dan lain-lain. Adapun orang yang meriwayatkan hadis daripada beliau adalah al-Hasan bin Mus'ab al-Nakha'i, Ahmad bin sobah al-Fayyumy, al-Tho'i dan lain-lain. Imam Abu Abdurrahman al-Sulamy menyebutkan dalam Tobaqoh-nya bahawa Dzunnun telah meriwayatkan hadis Nabi dari Ibn Umar yang berbunyi "Dunia adalah penjara orang mu'min dan syurga bagi orang kafir". Di samping kebolehan dalam ilmu-ilmu Syara ', sufi Mesir ini terkenal dengan ilmu lain yang tidak digoreskan dalam lembaran kertas, dan datangnya tanpa sebab. Ilmu itu adalah ilmu Ladunni yang oleh Allah hanya khusus diberikan pada kekasih-kekasih-Nya saja.

Kerana demikian tinggi dan luasnya ilmu sang wali ini, suatu ketika ia memaparkan suatu masalah pada orang di sekitarnya dengan bahasa Isyarat dan Ahwal yang menawan. Seketika itu para ahli ilmu fiqih dan ilmu 'dhahir' timbul rasa iri dan dan tidak senang kerana Dzunnun telah berani masuk dalam wilayah (ilmu fiqh) mereka. Lebih-lebih ternyata Dzunnun mempunyai kelebihan ilmu Robbany yang mereka tidak punyai. Tanpa pikir panjang mereka mengadukannya pada Khalifah Al-Mutawakkil di Baghdad dengan tuduhan sebagai orang Zindiq yang memporak-perandakan syari'at. Dengan tangan dirantai sufi besar ini dipanggil oleh Khalifah bersama murid-muridnya. "Benarkah engkau ini zahidnya negeri Mesir?". Tanya khalifah kemudian. "Begitulah mereka mengatakan". Salah satu pegawai raja menyela: "Amir al-Mu'minin senang mendengar perkataan orang yang zuhud, kalau engkau memang zuhud terus bicaralah".

Dzunnun menundukkan muka sebentar lalu berkata "Wahai amiirul mukminin .... Sungguh Allah mempunyai hamba-hamba yang menyembahnya dengan cara yang sulit, tulus hanya kerana-Nya. Kemudian Allah memuliakan mereka dengan balasan rasa syukur yang tulus pula. Mereka adalah orang-orang yang buku catatan amal baiknya kosong tanpa diisi oleh malaikat. Ketika buku tadi sampai ke hadrat Allah SWT, Allah akan mengisinya dengan rahsia yang diberikan langsung pada mereka. Badan mereka adalah duniawi, tapi hati adalah samawi ... .... ".

Dzunnun meneruskan mauidzoh-nya sementara air mata Khalifah terus mengalir. Setelah selesai berceramah, hati Khalifah telah dipenuhi oleh rasa hormat yang mendalam terhadap Dzunnun. Dengan wibawa khalifah berkata pada orang-orang datang menghadiri mahkamah ini: "Kalau mereka ini orang-orang Zindiq, maka tidak ada seorang muslim pun di muka bumi ini". Sejak saat itu Khalifah al-Mutawaakil ketika disebutkan padanya orang yang Wara 'maka dia akan menangis dan berkata "Ketika disebut orang yang Wara' maka marilah kita menyebut Dzunnun".
Pujian para ulama 'terhadap Dzunnun 

Tidak ada maksud paparan berikut ini supaya Dzunnun al-Misri menjadi lebih terpuji. Sebab apa yang dia inginkan dari pujian makhluk sendiri ketika Yang Maha Sempurna sudah memujinya. Apa ertinya sanjungan berjuta manusia berbanding belaian kasih Yang Maha Penyayang?. Dan hanya dengan harapan semoga semua menjadi hikmah dan manfaat bagi semua paparan berikut ini hadir. 

Imam Qusyairy dalam kitab Risalah-nya mengatakan "Dzunnun adalah orang yang tinggi dalam ilmu ini (Tasawwuf) dan tidak ada bandingannya. Ia sempurna dalam Wara ', Haal, dan adab". Tak kurang Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al-Jalak mengatakan "Saya telah menemui 600 guru dan aku tidak menemukan seperti keempat orang ini: Dzunnun al-Misry, ayahku, Abu Turob, dan Abu Abid al-Basry". Seperti berlumba memujinya sufi terbesar dan ternama Syaikh Muhiddin ibn Araby Sulton al-Ariffin dalam hal ini mengatakan "Dzunnun telah menjadi Imam, bahkan Imam kita".  

Pujian dan penghormatan pada Dzunnun bukan hanya diungkapkan dengan kata-kata. Imam al-Munawi dalam Tobaqoh-nya bercerita: "Sahl al-Tustari (salah satu Imam tasawwuf yang besar) dalam beberapa tahun tidak duduk maupun berdiri bersandar pada mihrab. Ia juga seperti tidak berani bercakap. Suatu ketika ia menangis, bersandar dan bicara tentang makna-makna yang tinggi dan Isyaraat yang menakjubkan. Ketika ditanya tentang ini, ia menjawab "Dulu waktu Dzunnun al-Misri masih hidup, aku tidak berani bercakap tidak berani bersandar pada mihrab kerana menghormati beliau. Sekarang beliau telah wafat, dan seseorang berkata padaku padaku: berbicaralah!! Engkau telah diberi izin". 

Cinta dan ma'rifat  


Suatu ketika Dzunnun ditanya seseorang: "Dengan apa Tuan mengetahui Tuhan?". "Aku mengetahui Tuhanku dengan Tuhanku", jawab Dzunnun. "Kalau tidak ada Tuhanku maka aku tidak akan tahu Tuhanku". Lebih jauh tentang ma'rifat ia memaparkan: "Orang yang paling tahu akan Allah adalah yang paling bingung tentang-Nya". "Ma'rifat boleh didapati dengan tiga cara: dengan melihat pada sesuatu bagaimana Dia mengaturnya, dengan melihat keputusan-keputusan-Nya, bagaimana Allah telah memastikannya. Dengan merenungkan makhluk, bagaimana Allah menjadikannya".  
Tentang cinta ia berkata: "Katakan pada orang yang memperlihatkan kecintaannya pada Allah, katakan supaya ia berhati-hati, jangan sampai merendah pada selain Allah!. Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah dia tidak punya keperluan pada selain Allah". "Salah satu tanda orang yang cinta pada Allah adalah mengikuti kekasih Allah Nabi Muhammad SAW dalam akhlak, perbuatan, perintah dan sunnah-sunnahnya". "Pangkal dari jalan (Islam) ini ada pada empat perkara:" cinta pada Yang Agung, benci kepada yang Fana, mengikuti pada Al-Quran yang diturunkan, dan takut akan tergelincir (dalam kesesatan) ". 

 
Karomah Dzunnun al-Misri  


Imam al-Nabhani dalam kitabnya "Jami 'al-karamaat" berkata: "Diceritakan dari Ahmad bin Muhammad al-Sulami:" Suatu ketika aku menghadap pada Dzunnun, lalu aku melihat di depan beliau ada mangkuk dari emas dan di sekitarnya ada kayu menyan dan minyak Ambar. Lalu beliau berkata padaku "engkau adalah orang yang biasa datang ke hadapan para raja ketika dalam keadaan bergembira". Menjelang aku ingin pulang beliau memberiku satu dirham. Dengan izin Allah wang yang hanya satu dirham itu boleh aku jadikan bekal sampai kota Balkh (bandar di Iran).  
Suatu hari Abu Ja'far ada di samping Dzunnun. Lalu mereka berbicara tentang ketundukan benda-benda pada wali-wali Allah. Dzunnun mengatakan "Termasuk ketundukan adalah ketika aku mengatakan pada katil tidur ini supaya berjalan di penjuru empat rumah lalu kembali pada tempat asalnya". Maka katil itu berputar pada penjuru rumah dan kembali ke tempat asalnya. 

Imam Abdul Wahhab al-Sya'roni berkata: "Suatu hari ada perempuan yang datang pada Dzunnun lalu berkata" Anakku telah dimangsa buaya ". Ketika melihat duka yang mendalam dari perempuan tadi, Dzunnun datang ke sungai Nil sambil berkata "Ya Allah ... keluarkan buaya itu". Lalu keluarlah buaya, Dzunnun membedah perutnya dan mengeluarkan bayi perempuan tadi, dalam keadaan hidup dan sihat. Kemudian perempuan tadi mengambilnya dan berkata "Maafkanlah aku, kerana dulu ketika aku melihatmu selalu aku merendahkanmu. Sekarang aku bertaubat kepada Allah SWT"

.
Demikianlah sekelumit kisah perjalanan hidup waliyullah, sufi besar Dzun Nun al-Misri yang wafat pada tahun 245 H. semoga Allah me-ridlai-nya.


 sumber diambil:http://dinul-islam.org/index.php?option=com_content&view=article&id=32:imam-dzunnun-al-misry-&catid=7:biografi&Itemid=9

You Might Also Like

0 strawberries yummy

Follow me

Like us on Facebook

Follow us

Flickr Images