Ketika CINTA berbuah SYURGA

9:22:00 AM

Cerita ini di copy paste khas buat Acik Fauzun dan Mok Dah.Ini entri khas taw buat korang berdua.Dah hujung sem ni makin digamat rasa pilu pula.Lagi-lagi bila dorang berdua ni datang bilik dengan buah tangan yang penuh ditangan.Terharu tapi takkan nak tunjuk.hehe.Entah dimana pula dapat kita ketemu. Andai cinta kita bisa berbuah di syurga,alangkah indahnya nilai sebuah persahabatan.Dikala salah membetulkan, dikala tidak sempurna,engkau tidak meninggalkan, dikala sepi engkau menghiburkan, dikala resah engkau ajarkan kalimah Tuhan.dikala shopping sahaja,engkau kata bayar sendiri-sendiri.kihkihkih..jangan marah.

Di tanah Kurdistan, ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki putra; seorang anak lelaki yang rupawan, pemberani, cerdas dan patuh. Detik-detik yang paling membahagiakan raja adalah, ketika dia mengajari anaknya itu membaca kalam ilahi Al-Qur’an Al-Karim. Sang raja juga menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tenteranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Said merasa sangat jengkel jika di tengah- tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada saja yang mengganggunya atau memutuskannya.
            Adakalanya, ketika sedang asyik menghayati cerita ayahnya, dengan tiba-tiba pengawal memberitahukan bahawa ada tetamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja faham apa yang dirasakan anaknya.
            Dengan bijak, ayahnya memberi nasihat kepada putranya, “Anakku Said, sudah waktunya kau mencari sahabat sejati yang setia dalam suka dan duka serta menjadi ubat bagimu. Seorang sahabat yang baik, yang akan rela membantumu untuk menjadi  orang baik dan berguna. Sahabat sejati yang kau ajak saling mencintai untuk syurga.”
            Said terkejut dan penuh tanya mendengar perkataan ayahnya yang bijak itu.
            “Apa maksud Ayahanda dengan sahabat yang bisa diajak saling mencintai untuk syurga?” tanya Said penuh persoalan.
            “Dia adalah sahabat sejati yang benar-benar mahu besahabat dengan dirimu, bukan kerana derajatmu, akan tetapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang terbentuk dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu kerana Allah. Dengan dasar itu, kau pun mencintainya dengan penuh keikhlasan; kerana Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan yang luarbiasa yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu pula akan bersinar dan membawa kalian masuk ke dalam jannah atau syurga.”
            “Bagaimana cara mencari sahabat sejati itu, wahai Ayahanda?” tanya Said.
            Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan sahabat sejati. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah siapa pun yang kau anggap sesuai, untuk menjadi sahabatmu saat makan pagi di sini, di istana. Jika sudah sampai di sini, hulurlah dan lambatkan waktu penyajian makanan.  Biarlah mereka semakin lapar. Lihatlah apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga butir telur. Jika ia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, kemudian apa yang  yang mereka lakukan! Itulah cara yang paling sederhana bagimu. Syukur, jika kau bisa mengetahui perilakunya lebih dari itu.”
            Said sangat gembira mendengar nasihat dari Ayahandanya seorang raja yang shalih. Dia pun mulai melakukan apa yang dikatakan Ayahandanya, ia mempraktikkan cara mencari sabahat sejati yang cukup mudah itu. Mula-mula, ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu persatu. Sebahagian besar dari mereka marah-marah kerana hidangan tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa minta diri dengan hati kesal, ada yang memukul meja, ada yang melontarkan kata-kata tidak terpuji; mencaci maki kerana terlalu lama menunggu hidangan.
Di antara teman anak raja itu, ada seorang yang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat, sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka, dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk sarapan pagi. Adil memang lebih sabar dibandingkan anak-anak pembesar sebelumnya. Dia menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasa cukup, said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.
Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Itu tidak cukup mengisi perutku.”
Adil tidak mahu menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meninggalkan Said sendirian. Said diam. Tidak perlu meminta maaf pada Adil kerana telah meremehkan hidangan itu yang telah direbus oleh Said. Dia mengerti Adil tidak lapang dada dan tidak sesuai menjadi sahabat sejatinya.
Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja, anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari seorang pangeran. Malam harinya. Sengaja ia tidak makan agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan, makanan anak raja pasti enak dan lezat.
Pagi-pagi sekali, anak saudagar kaya itu telah datang menemui said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia harus menunggu waktu yang lama sampai makanan dihidangkan. Akhirnya Said membawa piring dengan tiga piring berisis tiga butir telur.
“Ini makanannya, saya ke dapur dulu mengambil air minum,” kata Said seraya meletakkan piring itu di atas meja.
Lalau, Said masuk ke dalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung melahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ternayata tiga telur itu telah lenyap.
“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar.
“Telah aku makan.”
“Semua?”
“Ya, habis aku lapar sekali.”
Melihat itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan sahabat setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka duka bersama. Sesungguhnya, Said belum makan apa-apa.
Said merasa jengkel kepada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tidak pantas menjadi sahabat sejatinya. Akhirnya ia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari sahabat sejati.
***
          Akhirnya, Said berpikir mencari sahabat di luar istana. Kemudian, mulailah Said menjelajah melewati hutan ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang sahabat yang baik.
Sampai akhirnya, pada suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba digubuknya. Rumah dan gubuk anak itu menunjukkan bahwa ia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu’, lalu shalat dua raka’at. Said memerhatikannya dari balik pohon.
Selesai shalat, Said datang dan menyapa, ”Kawan, kenalkan aku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa?”
“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.”
Lalau, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya, dan menjadi temannya.
Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi sahabat. Kau anak seorang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedang aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”
Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeza-bezakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apa aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mau berteman denganku? Menagapa tidak kita cuba beberapa waktu dulu? Kau nanti bisa menilai, apakah aku sesuai atau tidak menjadi sahabatmu.”  
“Baiklah kalau begitu, kita bersahabat. Akan tetapi, dengan syarat, hak dan kewajiban kita sama, sebagai sahabat seia-sekata.”
          Said menyertai syarat yang diajukan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama ; pergi ke hutan bersama, memancing bersama, dan berburu kelinci bersama.  Anak tukang kayu itu mengajarinya berenang di sungai, menggunakan panah, dan memanjat pohon di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.
Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di gubuknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.
Di gubuk itu, mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh kerana itu, Said merasa cukup dengan yang diberikan kepadanya.
Selesai makan, Said mengucapkan hamdallah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak ia dapatkan di istana. Oleh sahabatnya itu, dia diajari untuk mengenali dan membezakan jenis dedaunan dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang bisa dimakan, yang bisa dijadikan ubat.
“Dengan mengenal jenis buah dan dedaunan di hutan secara baik, kita tidak susah jika suatu saat tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.
Seketika itu, Said tahu bahwa ilmu tidak hanya bisa didapat di madrasah seperti di ibu kota kerajaan. Ilmu ada di mana-mana. Bahkan di hutan sekalipun. Hari itu Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.
Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said meminta diri kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya besok pagi. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya.
“Pergilah ke ibu kota, berikan kertas ini kepada tentera yang kau temui di sana. Dia akan mengantarkanmu ke rumahku, “ kata Said sambil tersenyum.
Insya Allah aku akan datang,” jawab anak pencari kayu itu.
Pagi harinya, anak pencari kayu itu sampai juga ke istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya dia ragu untuk masuk ke istana. Akan tetapi, jika mengingat kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.
***
Said menyambutnya dengan dengan hangat, penuh rasa persahabatan dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah diundang makan di ruang makan itu, Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu sudah biasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama beberapa hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan bisa sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tenteram.
Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan, senang hura-hura. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.
Akhirnya, tiga butir telur masak pun dihidangkan. Said mempersilahkan sahabatnya untuk memulai makan. Anak pencari kayu itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya pelan-pelan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Kemudian, dengan senagaja Said mengambil telur yang ketiga. Dia mengupasnya dengan cepat, dan melahapnya. Sahabatnya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan sahabatnya dengan sebutir telur itu, apakah ia akan memakannya sendiri atau...?
Anak pencari kayu itu mengambil pisau yang ada di dekatnya. Lalu, dia membelah telur itu menjadi dua; yang satu ditangannya, dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tanpa ragu-ragu lagi, Said menangis dengan haru.
Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, “Engkau sahabat sejatiku! Engkau sahabat sejatiku! Engkau sahabatku masuk syurga.”
Sejak saat itu, keduanya bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati kerana Allah Swt.
Kerana kekuatan cinta itu, mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada ulama yang tersebar di Turki, Syiria, Irak, Mesir dan Yaman.
Bulan berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya tumbuh dewasa. Raja yang adil; Ayahanda Said, meninggal dunia. Akhirnya Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan Ayahandanya. Menteri yang pertama kali dia pilih adalah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi sahabat seperjuangan dan penasihat raja.
Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melakukan shalat tahajjud dan membaca Al-Qur’an bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu maju, makmur, dan jaya; baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur

nota hati: Fauzun sebelum aku mengenalinya, adalah orang yang ceria.Melihatnya dari jauh sudah cukup menggembirakan walaupun belum mengenalinya.Mula kenal sewaktu di asasi dan hampir 5tahun mengenalinya.Dan satu perkara yang pasti adalah saya mengenalinya dengan hati dulu barulah nama.Sungguh,tidak ada bezanya mengenalinya dengan hati mahupun nama.Tegas pendiriannya, tersusun jadualnya.

Syuhadah saya tak boleh komen banyak-banyak sebab dah jadi isteri orang nanti kena sound pula dengan husband dia.Apapun dia seorang yang halus hatinya,lembut jiwanya, selalu mengalah.Air mata adalah kekuatan dirinya.Memang selayaknya dia menjadi suri seawal dari kami berdua.Sahabat yang solehah insyaAllah menjadi isteri solehah.

Yang lain jangan jelous.Anda juga punya tempat istimewa di hati saya.Kalau tak dihati saya pasti dihati insan lain.Cuma kali ini watak utama jer bukan anda.Maklumlah hati manusia ni tak banyak kosong.Tapi insyaAllah,sayang dan kasih yang Tuhan beri itu masih boleh disedekahkan.Yang penting semoga CINTA kita berbuah syurga.Senyum sokmo deh.ngeh3x
post signature

You Might Also Like

2 strawberries yummy

  1. haha..so sweet...bik ni org x tahu mane satu dah blog die..hehe..jom g shopping..keh keh..

    ReplyDelete
  2. baru tahu ke bik ni so sweet.hihi.shopping??bole bankrupt tiap minggu shopping.hehe.InsyaAllah.

    ReplyDelete

Follow me

Like us on Facebook

Follow us

Flickr Images